Rabu, 06 Maret 2019

Metode Sampling Hewan Tanah

Metode Sampling Hewan Tanah
              Cara pengambilan contoh hewan dan taksiran kepadatannya sangat tergantung pada jenis hewannya . Metoda pengambilan contoh hewan tanah sangat banyak macamnya, tetapi tidak satupun diantaranya dapat digunakan untuk semua kelompok hean tanah. Masing- maing metoda hanya hanya memberikan hasil yang sahihuntuk kelompok hewan tanah tertentu. berikut beberapa metoda sampling hewan tanah, yaitu metoda sortir dengan tangan (Hand Sorting Method) dan metode perangkap jebak ( Pit Fall Trip).

METODA SORTIR DENGAN TANGAN (Hand Sorting Method)
            Metode sortir dengan tangan menghendaki kesabaran dan ketelitian serta membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak. Metode ini banyak dilakukan hanya untuk hewan- hewan tanah yang berukuran besar seperti cacinng. Berdasarkan ukuran tubuh, hewan tanah dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:
a. Mikrofauna: bila ukuran tubuh 20- 200 mikron.
b. Mesofauna: bila ukuran tubuh 200 mikron- 1cm.
c. Makrofauna: bila ukuran tubuh lebih dari 1 cm.
                 Penerapan metode sortir dengan tangan ini dilakukan langsung di lapangan atau pada habitat yang diteliti, yaitu dengan memilih langsung hewan dari contoh tanah yang diambil. Metode sortir dengan tangan sangat cocok untuk menaksir populasi cacing tanah. Efisiensi dari metode ini berkisar antara 59- 90%.

Langkah Kerja:
  1. Pilihlah berbagai tempat yang akan diamati fauna tanahnya.
  2. Ukurlah luasan tanah sebesar 30x 30cm^2 dan 60x 60cm^2.
  3. Luasan tanah 30x 30cm, digali tanah sedalam 15 cm (lapisan top soil), setiap kedalaman dipisahkan 5cm secara berurutan.
  4. luasan tanah sebesar 60x 60cm, digali tanah sedalam 30cm (lapisan top soil), setiap kedalaman dipisahkan 10cm secara berurutan.
  5. Setiap lapisan diamati mikrofaunanya yang dijumpai secara makroskopis maupun mikroskopis.
  6. Setiap jenis fauna dikoleksi dan dikumpulkan untuk keeperluan identifikasi dan mengukur kelimpahannya pada setiap tempat yang berbeda pada luasan tertentu.
  7. Hasil penemuan pada setiap tanah yang diambil tersebut diamati dan dikompilasi.
  8. Komposisi bahan organik diamati pada setiap tanah yang diambil.
  9. Tanah yang diambil juga diamati kondisi fisiknya.
  10. Hasil yang didapat lalu didiskusikan. 
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Hasil
  • Petak 30 cm x 30 cm


Lokasi = Lab. Lingkungan
Waktu=16.16 WIB
pH=7
Suhu= 22°C
Kelembapan= 55%

NO
Jenis Spesies
Jumlah
0-5
5-10
10-15
1
Cacing
2
-
2
Semut
1
-
-

  • Petak 60 cm x 60 cm

Lokasi = Lab. Lingkungan
Waktu=16.16 WIB
pH=7.5
Suhu= 22.5°C
Kelembapan= 70%

No.
Jenis Spesies
Jumlah
0-      10cm
10- 20cm
20- 30cm
1.
Cacing
29






2.
Semut
4




3.
Ulat
3





Perhitungan
A. petak 30x 30cm
- kepadatan 
   cacing= 2/3= 0.7
   semut= 1/3= 0.3
- kepadatan relatif 
  cacing= 0.7/1x100%= 70%
  semut= 0.3/1x100%= 30%
- frekuensi kehadiran 
  cacing= 1/2x100%= 50%
  semut= 1/2x100%= 50%

B. Petak 60x 60cm
- kepadatan
  cacing= 29/34= 0.85
  semut= 4/34= 0.12
  ulat= 1/34= 0.03
- kepadatan relatif
  cacing= 0.85/1x100%= 85%
  semut= 0.12/1x100%
  ulat= 0.03/1x100%= 3%
- frekuensi kehadiran 
  cacing= 1/3x100%= 33.3%
  semut 1/3x100%= 33.3%
  ulat= 1/3x100%= 33.3%

b. Pembahasan
          Populasi adalah kumpulan individu dari suatu jenis organisme. organisme tanah memiliki peranan sebagai salah satu indikator kesuburan tanah. Aktivitass komunitas heterotrofik didalam tanah dapat meningkatkan produksi primer dan stabilitas produksi dalam kondisi stres (Marsandi F, Hermansyah, Agustian, dkk. 2017).
          Berdasarkan hasil dari pengamatan yang telah dilakukan didapatkan 3 jenis organsme pada petak berukuran 30x 30cm dengan kedalaman 3x5 cm, serta 4 jenis organisme pada petak 60x 60cm. terjadi perbedaan jumlah jenis organisme pada kedua petak. Hal ini disebabkan karena pada petak 60x 60cm ini lebih luas dan lebih dalam sehingga jumlah dan jenis organsmenya lebih banyak dibandingkan pada petak 30x 30cm.
         Frekuennsi kehadiran organisme pada petak 30x30 cm dan 60x 60 cm termasuk dalam kategori assesori dengan rentang 25- 50%.
         Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di ruang di ruang terbuka organisme tanahnya cenderung lebih sedikit dibandingkan pengamatan yang dilakukan pada lokasi yang tertutup oleh vegetasi (banyak ditumbuhi tanaman). Hal ini disebabkan karena kurangnya nutrisi atau cadangan makanan yang tersimpan atau tersedia di ruang terbuka dengan vegetasi yang minim. Nutrisi tersebut dapat berupa serasah, material kayu, spora, jamur, bakteri dan lain- lain (Andriani LF, Rully R, Mochammad H. 2012)

KESIMPULAN
          Berdasarkan hasil pengamatan  dapat disimpulkan bahwa terjadi perbedaan banyaknya jumlah organisme yang dilakukan diruang terbuka organisme tananya cenderung lebih sedikit dibandingkan pengamatan yang dilakukan pada lokasi yang tertutup oleh vegetasi (banyak ditumbuhi tanaman). Hal ini disebabkan karena kurangnya nutrisi atau cadangan makanan yang tersimpan atau tersedia di ruang terbuka dengan vegetasi yang minim. Nutrisi tersebut dapat berupa serasah, material kayu, spora, jamur, bakteri dan lain- lain (Andriani LF, Rully R, Mochammad H. 2012)

DAFTAR PUSTAKA
Andriani LF, Rully R, Mochammad H.2012.Pengaruh biostater pengurai bahan organik terhadap kapasitas infiltrasi air dan struktur komunitas mesofauna tanah. Jurnal Sains dan Matematika.Vol 21 No.1 Hal 11- 15.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar